Sepucuk Surat untuk Indonesia di Tahun 2018

Blora, 3 Desember 2017

Untuk : para atlet kebanggaan bangsa, yang akan berjuang di kancah Asia

Menurut cerita leluhur kita, ada sebuah negara yang dulunya bernama Nusantara. Negara yang terkenal akan sebutan zamrud khatulistiwa. Juga akan banyaknya kepulauan, serta semangat para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan. Ya, dari awal abad 15 - hingga pertengahan abad 19, negara kita pernah dijajah oleh 6 negara, 5 dari Eropa dan 1 dari Asia. Dari Sabang sampai Merauke, dan dari zaman kerajaan Kutai hingga zaman kerajaan Ternate-Tidore. Banyak nyawa melayang, dan harta benda menghilang. Tetapi meskipun demikian semangat para pejuang kemerdekaan anti padam, walaupun pada masa itu sangatlah kelam. Mereka terus bekerja keras, hingga hasil daripada itu adalah sebuah emas. Emas yang tiap tahunnya kita peringati sebagai Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik kita tercinta, Indonesia.

Indonesia, itulah tempat kita di lahirkan ke dunia. Negara yang bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika, dan berlandaskan Pancasila sebagai dasar negara. Sebuah panji yang harus kita jaga marwahnya. Juga kalau bisa, kita harumkan namanya.

Indonesia, itu pula kata yang kami sorakkan ketika kalian berlaga. Mulai dari ujung Sumatra sampai pedalaman Papua. Baik di level Asia Tenggara, Asia. Juga kalau bisa, level dunia.

Dan Indonesia, adalah negara yang simbolnya terpatri di pakaian kalian nantinya pada kiri dada saat berlaga. Juga kalau bisa, kalian kibarkan benderanya seraya berdiri diatas podium utama diiringi lagu "Indonesia Raya".

Juga kalau bisa, ya ! Kami sangat yakin kalian pasti bisa.

Tahun depan merupakan kesempatan pembuktian diri bagi kalian. 18 Agustus 2018 mendatang merupakan hari bersejarah bagi negara kita, Indonesia. Sehari setelah Hari Kemerdekaan Indonesia ke-73, akan terselenggaralah ajang multi event olahraga regional Asia yang kita kenal dengan nama Asian Games. Jakarta-Palembang akan menjadi kota diselenggarakannya Asian Games XVIII. Indonesia bukan pertama kalinya menjadi tuan rumah untuk ajang tersebut. Pada Asian Games IV, 55 tahun yang lalu negara kita pun pernah menjadi tuan rumah, bertempat di Jakarta. Walaupun tantangan pada masa itu lumayan berat disaat perekonomian sedang bergejolak, namun Asian Games 1962 berlangsung sesuai yang diharapkan. Semoga saja di tahun yang perkenomiannya lebih baik daripada saat itu, Asian Games 2018 nanti bakal lebih sukses dan menarik.

Menarik lagi kalau nantinya prestasi yang  pernah Indonesia raih saat 55 tahun yang lalu bisa kalian ulang kembali pada tahun depan, lebih bahkan. Terbayang bagaimana sukacitanya rakyat Indonesia pada masa itu. Dapat ditarik kesimpulan dari cerita tersebut, posisi tertinggi yang pernah diraih Indonesia adalah runner up pada Asean Games IV tahun 1952. Posisi tertinggi yang masih awet bertahan hingga saat ini. Sejak saat itu, saat setelah 55 tahun berlalu, dan setelah 13 perhelatan diselenggarakan, Indonesia seperti kehilangan sayapnya. Selain tak pernah absen dalam perhelatan ini, negara kita pun tak pernah juga kembali menemukan performa terbaiknya. Jangankan kembali meraih runner up, menembus 5 besar maupun 10 besar saja mereka belum sanggup. Selain target yang berat, persaingan yang ketat mungkin menjadi masalah utama para atlet. Apalagi di tahun ini target yang dibebankan di pundak kalian, beratnya pun lumayan membuat panas dingin pikiran. "Pemerintah sudah bilang pokoknya Indonesia harus masuk sepuluh besar. Itu adalah level ambisi kita. Dari sepuluh besar itu, kami sudah lihat distribusi medalinya selama beberapa Asian Games dan dapatlah jumlah minimumnya sekitar 16-20 medali emas," ujar ketua Satlak Prima. (source: https://sport.detik.com/sport-lain/3631590/hasil-sea-games-tak-pengaruhi-target-satlak-prima-di-asian-games-2018 ). Tak kan ada revisi untuk target ini, mengingat di Sea Games 2017 beberapa bulan lalu, negara kita harus menanggung malu. Malu karena gagal memenuhi ekspekstasi para petinggi negeri, dan pencapaian tersebut merupakan catatan terburuk sepanjang sejarah olahraga Indonesia di kawasan Asia Tenggara.

Namun tak apa demikian, pepatah mengatakan kegagalan merupakan awal dari kesuksesan. Jangan jadikan suatu kegagalan menjadi momok yang menakutkan. Belajarlah dari itu kawan, benahi apa yang menjadi kekurangan dan tetap pertahankan kelebihan dari kalian. Target yang di doktrin kan di otak kalian jangan pula jadikan sebuah beban, tetapi jadikan lah itu tujuan, tujuan yang sudah lama hilang terkubur dari peradaban. Contohlah kerja keras seorang pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan, atau bisa pula generasi sebelum kalian yang pernah menggoreskan tinta-tinta kemenangan.

Kemerdekaan yang tiap tahun kita rayakan bukan pemberian, melainkan hasil dari tumpah darah para pahlawan. Walaupun mereka kalah dalam hal pasukan maupun persenjataan.

Begitupun demikian, kemenangan yang pernah diraih oleh generasi sebelum kalian, merupakan hasil dari jerih payah mereka dalam latihan. Walaupun tempat maupun alat latihan tak selengkap dan secanggih sekarang. 

Di event kali ini pun kalian mendapat sebuah keuntungan. Menjadi tuan rumah kompetisi ini merupakan sebuah kebanggaan. Keuntungan, karena kita sudah terbiasa dengan cuaca maupun venue yang ada. Dan kebanggaan karena setelah 55 tahun lamanya negara kita di percaya kembali sebagai penyelenggara. 

Namun tidak lengkap rasanya bila kita hanya menjadi penyelenggara, tanpa predikat juara. Kontingen kita cukup menyapu bersih segala peluang yang ada, supaya Indonesia tidak hanya dikenal berhasil sebagai penyelenggara, tapi juga sebagai peserta. 

Kalian tidak sendiri, masih ada pula kami yang akan selalu mendukung kalian dari layar kaca, dan turut membantu mensukseskan acara yang terselenggara. Ya, walaupun terkadang kami hanya bisa mengutarakan aspirasi, memprovokasi, maupun mencaci maki kalian jika tidak melakukan sesuai apa yang diharapkan. Namun dibalik semua itu, tersirat harapan besar yang perantaranya adalah kalian.

Buktikan bahwa Indonesia tidak dikenal karena arus mudik, dan macetnya ibukota. Dan tidak hanya  pula dikenal karena banyaknya sindikat narkoba, perampokan uang negara, maupun praktik jual jasa saja. Melainkan dengan tercapainya target yang ada di depan mata, dengan berkibarnya bendera pusaka kita, dan dengan dinyanyikannya lagu "Indonesia Raya". Dan dengan demikian pula seluruh rakyat Indonesia akan merasa bangga.

Dari: anonymmj

Comments