Jawaban Untuk Pertanyaan, Apa Yang dibutuhkan Indonesia Sekarang

Sebelum saya membocorkan jawaban dari pertanyaan tersebut, perkenankanlah saya bercerita tentang beberapa dampak yang telah diberikan oleh pandemi covid-19 terhadap sektor pendidikan. Saya akan mencontohkan tentang, apa yang terjadi di lingkungan sekitar tempat saya tinggal. Tepatnya di SDN Tambahrejo, Kabupaten Blora.

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, dampak yang ditimbulkan oleh makhluk yang hanya seukuran mikroba, bisa mempengaruhi hampir seluruh wilayah yang ada di Indonesia, bahkan dunia. Sudah hampir 6 bulan lamanya, ia membuat beberapa orang kehilangan nyawa, ada pula diantaranya juga kehilangan asa

Kehilangan asa karena, dengan pemberlakuan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara tiba-tiba akibat adanya pandemi virus corona, membuat sejumlah siswa, guru, maupun orang tua harus  berfikir lebih ekstra. Apalagi, menurut kabar yang disampaikan oleh “Mas Menteri Pendidikan” pembelajaran secara online (daring) akan diberlakukan sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Sebelum tahun ajaran 2020/2021 dimulai contohnya, banyak siswa SDN Tambahrejo yang mengeluh, menangis, maupun bertanya via pesan Whatsapp  kepada Ibu saya yang merupakan salah satu Guru di SDN Tambahrejo. Mayoritas pesan yang mereka sampaikan, yaitu tentang kapan mereka bertemu dengan teman-teman dan guru mereka kembali, bosan dengan pembelajaran online, terkadang ada pula yang melampiaskan rasa rindunya dengan datang ke rumah guru mereka langsung bersama dengan kawan satu kelasnya.

Memang kata “Belajar Dari Rumah”, hanya terdiri dari 3 kata dan setiap orang dapat dengan mudah melafalkannya. Tetapi hal itu tidak berlaku dalam praktek maupun penerapan sistemnya. Khususnya bagi guru dan juga orang tua siswa.

Berdasarkan hasil yang di dapat dari pertemuan Kepala Sekolah beserta guru-guru SDN Tambahrejo dengan para orang tua siswa yang dilaksanakan pada tanggal 15 Juli 2020 lalu, terdapat beberapa kendala yang menghambat proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), diantaranya: kualitas jaringan yang tidak stabil; ketersediaan fasilitas pembelajaran (seperti laptop maupun smartphone); maupun akses listrik.

        

Beberapa siswa terkadang terlambat mengikuti pembelajaran karena smartphone yang digunakan merupakan milik orang tuanya, sehingga dia harus menunggu selepas orang tuanya pulang kerja untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar yang seharusnya sudah usai. Adapun siswa yang berulang kali absen mengikuti pembelajaran karena orang tuanya belum menggunakan smartphone, melainkan handphone.

Guru menyadari akan hal ini karena mereka tau bahwa orang tua siswa memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Hal ini pula yang mendorong mereka untuk melakukan alternatif pembelajaran lain. Yaitu membagi kelasnya dalam beberapa kelompok belajar dan melakukan pembelajaran tatap muka dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang ada, adapun pilihan yang ditawarkan (untuk tempat kegiatan belajar mengajar), yaitu di rumah guru kelas atau bergiliran di rumah orang tua siswa sesuai dengan kelompok yang telah ditentukan.

Seperti yang diketahui pula, pemerintah pada awal Agustus lalu, telah memperbolehkan pembelajaran tatap muka di sekolah yang berada di zona hijau dan zona kuning. Namun pembelajaran tatap muka pun tidak berlangsung lama, sebab peta persebaran virus corona yang ada di wilayah Blora kembali merah.


Melihat Indonesia sedang mengalami kondisi khusus seperti sekarang ini, menurut saya yang diperlukan adalah sinergi antara tripusat pendidikan (keluarga, sekolah, dan masyarakat), bukan malah saling menyuarakan isi hati, karena kita semua sedang mengalami dampak dari pandemi.

Comments